Kegiatan lepas sambut malam tahum baru ini dilaksanakan setiap tahun, dan ini.merupakan bentuk membangun keharmonisan antar ummar beragama," ujar Kades Galala. Jumat (31/12/2021) tadi malam. Alumni STIKIP Kieraha Ternate ini juga menyampaikan bahwa di tahun baru 2022 ini juga harus dijadikan momentum untuk mengevaluasi pribadi kita Kerajaan Gapi atau lebih kenamaan disebut Kerajaan Ternate adalah salah satu kesultanan islam di Sulawesi yang berkedudukan di Maluku. Kerajaan ini merupakan salah satu manifetasi sejarah perkembangan islam di Indonesia khususnya di bagian timur. Tidak hanya itu, kerajaan ini juga sangat berpengaruh di masa perlawanan terhadap penjajahan bangsa Eropa. Kondisi ini lantaran Kepulauan Maluku adalah sentra rempah rempah di Indonesia, bahkan dunia. Sejarah Kerajaan TernateLokasi, Letak Geografis, Peta WilayahSilsilah RajaA. Raja Bergelar Kolano1. Baab Mashur Malamo 1257 – 1272 M2. Jamin Qadrat 1277 – 1284 M3. Komala Abu Said 1284 – 1298 M4. Bakuku Kalabata 1298 – 1304 M5. Ngara Malamo Komala 1304 – 1317 M6. Patsaranga Malamo 1317 – 1322 M7. Cili Aiya Sidang Arif Malamo 1322 – 1331 M8. Panji Malamo 1331 – 1332 M9. Syah Alam 1332 – 1343 M10. Tulu Malamo 1343 – 1347 M11. Kie Mabiji Abu Hayat I 1347 – 1350 M12. Ngolo Macahaya 1350 – 1357 MB. Raja Bergelar Sultan18. Zainal Abidin 1486 – 1500 M19. Sultan Bayanullah 1500 – 1522 M20. Hidayatullah 1522 – 1529 M21. Abu Hayat II 1529 – 1533 M22. Tabariji 1533 – 1534 M23. Khairun Jamil 1535 – 1570 M24. Baabullah Datu Syah 1570 – 1583 M25. Said Barakat Syah 1583 – 1606 M26. Mudaffar Syah I 1607 – 1627 M27. Hamzah 1627 – 1648 M28. Mandarsyah 1648 – 1650 M, masa pertama29. Manila 1650 – 1655 M30. Mandarsyah 1655 – 1675 M, masa kedua31. Sibori 1675 – 1689 M48. Iskandar Muhammad Jabir Syah 1929 – 1975 M49. Haji Mudaffar Syah Mudaffar Syah II 1975 – 2015 MKehidupan di Kerajaan TernateA. Kehidupan EkonomiB. Kehidupan Sosial & BudayaC. Kehidupan PolitikMasa KejayaanPenyebab Runtuhnya KerajaanPeninggalan dan Sumber Sejaraha. Istana Sultan Ternateb. Masjid Jami Ternatec. Makam Rajad. Al Quran Tulisan Tangane. Alat Perangf. Benteng Tolukko Istana Kerajaan Ternate tahun 1931 Sumber Arsip Nasional Republik Indonesia ANRI KIT 90519 vv 10 Kerajaan Ternate berdiri sebagai hasil konsensus para momole yang berkuasa ketika daerah ini mulai banyak didatangi pedangang asing pada permulaan abad ke-13. Para pedagang yang singgah menghadapi ancaman dari perompak di sekitaran Kepulauan Maluku. Keadaan ini mendorong para momole yang berasal dari Toboleu, Tobanga, Tobana dan Tubo mengadakan rembukan untuk mencari solusi atas prakarsa Momole Guna dari Tobona. Pertemuan ini dilakukan tahun 1255 M di Foramadiahi, di lereng bagian selatan Gunung Gamalama. Hasil rundingan para perwakilan empat kampung itu adalah tercetusnya ide untuk pendirian kerajaan yang dilakukan dua tahun setelahnya. Tahun 1257 M, Momole Ciko Bunga yang berasal dari kampung Sampala dinobatkan menjadi Kolano atau raja pertama, dengan dianugerahi gelar Baab Mashur Malamo. Pusat pemerintahan didirikan di Sempala yang berada di pesisir barat dari Pulau Ternate. Momentum bersejarah ini oleh masyarakat lokal disebut dengan Tara No Ate, yang bermakna turun dan merangkul’. Tara No Ate ini adalah asal mula penggunaan nama Ternate yang dipakai sekarang. Lokasi, Letak Geografis, Peta Wilayah Kerajaan Ternate terletak di pulau Gapi atau sekarang disebut dengan Ternate. Ibukota kerajaan berlokasi di Sempala kemudian dipindahkan ke Foramadiahi. Letak geografis Ternate dinilai sangat strategis. Pasalnya daerah ini terletak di jalur perdagangan penting yang menghubungkan pulau Sulawesi dengan Papua. Kerajaan Ternate berdiri di wilayah dengan topografi pesisir, bukit dan gunung. Salah satunya adalah Gunung Gamalama yang merupakan gung berapi aktif. Wilayah kekuasaan Kerajaan Ternate tidak cukup luas, tetapi sangat berpengaruh. Karena kawasan ini dikelilingi oleh laut sehingga iklim yang ada di Kerajaan Ternate sangat dipengaruhi oleh siklus pergerakan angin laut. Kerajaan Ternate berhasil menguasai seluruh kawasan Kepulauan Maluku, Nusa Tenggara, dan sebagian daerah di pulau Sulawesi. Silsilah Raja Secara struktural, masyarakat Ternate awalnya memiliki empat perkampungan dengan kepalanya disebut dengan momole. Setelah para momole membentuk aliansi pendiri Kerajaan Ternate, raja pertama yang naik takhta tahun 1257 M sdiseru dengan panggilan kolano. Pertengahan abad ke-15 syariat islam diadopsi penuh oleh Kerajaan Ternate. Hal ini berdampak pada gelar raja yang semula kolano disesuaikan menjadi Sultan. Kolano di struktur pemerintahan Kerajaan Ternate dibantu oleh seorang perdana menteri yang disebut jogugu dan dewan konstitutif kerajaan yang dipanggil fala raha. Di bawahnya terdapat klan bangsawan penopang kerajaan. Para momole pendiri Kerajaan Ternate terdahulu direpresentasikan dalam klan bangsawan ini yang diketuai oleh seorang Kimalaha. Terdiri dari Klan Marasaoli, Tomaito,Tomagola, serta Tamadi. Selain sebagai back-up kerajaan, klan bangsawan ini juga harus mempersiapkan calon raja apabila sultan yang memerintah tidak memiliki penerus. A. Raja Bergelar Kolano 1. Baab Mashur Malamo 1257 – 1272 M Baab Mashur Malamo adalah gelar yang disematkan kepada Momole Ciko Bunga sebagai kolano pertama hasil asese pendiri Kerajaan Ternate. Gelar Baab Mashur Malamo memiliki makna pintu kemasyuran yang besar’. Masa pemerintahannya belangsung selama 20 tahun. Selama pemerintahannya, Baab Mashur Malamo memutar roda kerajaan dibantu oleh jogugu dan Fala raha. 2. Jamin Qadrat 1277 – 1284 M Jamin Qodrat adalah kolano kedua di Kerajaan Ternate. Jamin Qodrat memiliki beberapa nama panggilan yaitu Kaicil Jamin, Kaicil Poit atau juga bisa disebut dengan Samman. Kaicil adalah istilah yang digunakan untuk menyebut putra mahkota. Jamin Qodrat adalah ayah dari Kaicil Komala Abu Said yang menggantikannya sebagai raja di periode berikutnya. 3. Komala Abu Said 1284 – 1298 M Komala Abu Said juga dikenal dengan Kaicil Siale. Ia adalah kolano ketiga Kerajaan Ternate menggantikan ayahnya. Pada masa kepemimpinan Komala Abu Said terjadi perpindahan pusat pemerintahan Kerajaan Ternate dari Sampala dipindahkan ke Foramadiahi. 4. Bakuku Kalabata 1298 – 1304 M Bakuku atau Kalibata adalah kolano keempat Kerajaan Ternate. Bakuku menerima estafet pemerintahan dari ayahnya, Komala Abu Said, pada tahun 1298 M. Akhir masa kepemimpinannya berada di tahun 1034 M. 5. Ngara Malamo Komala 1304 – 1317 M Raja selanjutnya yang masih menggunakan gelar kolano sebagai penyebutan raja adalah Komala Ngara Malamo. Kolano Ngara Malamo adalah inisiator untuk melakukan ekspansi wilayah. Ia segera Menyusun taktik politik untuk menguasai daerah – daerah di sekitarnya untuk memperbesar dan memperkuat Kerajaan Ternate. 6. Patsaranga Malamo 1317 – 1322 M Kolano Pastsaranga Malamo adalah raja keenam Kerajaan Ternate. Beliau memiliki nama alias yakni Syafiuddin dan Pancaranga Malamo. Patsaranga Malamo memerintah dari tahun 1317 hingga 1322 M. 7. Cili Aiya Sidang Arif Malamo 1322 – 1331 M Pergesekan Kerajaan Ternate dengan Kerajaan Tidore, Kerajaan Jailolo dan Kerajaan Bacan yang memperebutkan hegenomi territorial mulai tampak. Hal ini dipicu dari semakin maraknya pedagang dari Cina, Gujarat, Arab, Jawa dan juga Malaka yang singgah di kawasan pulau Maluku. Rivalitas yang ada semakin berlarut-larut dan menimbulkan konflik. Kolano Sidang Arif Malamo kemudian menginisiasi pertemuan raja raja di Kepulauan Maluku untuk bekerja sama menjalin persekutuan pada tahun 1322 M. Hasil dari pertemuan ini dikenal dengan Persekutan Moti, Motir Verbond, dan Moloku Kie Raha Empat Gunung Malauku yang merujuk pada empat raja yang hadir. Poin penting dari Moloku Kie Raha adalah bentuk kelembagaan di keempat kerajaan diseragamkan untuk meredakan ketegangan. Poin selanjutnya adalah adanya pembagian tugas untuk masing-masing kerajaan. Kerajaan Ternate dalam hal ini diserahi tugas sebagai Alam Makolano. Yaitu pihak yang ditunjuk untuk menjaga dan menjamin stabilitas dagang serta segala urusan yang bersifat keduniaan. Kerajaan Bacan berperan menjadi Dehe Makolano, yaitu pihak dengan tugas menjaga daerah perbatasan. Kerajaan Tidore memiliki peran selaku Kie Makolano. Yakni bagian yang menjaga dan menjamin tingkat keamanan di lingkup dalam negeri. Sedangkan Kerajaan Jailolo mengemban peran sebagai Jiko Makolano. Yaitu bagian persekutuan yang memperkuat benteng pertahanan untuk menangkal serangan maupun ancaman yang berasal dari luar. Setelah Moloku Kie Raha, aktivitas dagang di Kerajaan Ternate semakin menggeliat. Pelabuhan Talangame Bastiong menjadi pusat bandar dagang di Indonesia bagian timur. Selain itu, untuk menunjang kelancaran perdagangan antar bangsa, Kerajaan Ternate membangun pasar yang dilengkapi dengan fasilitas yang layak. 8. Panji Malamo 1331 – 1332 M Panji Malamo adalah kolano yang menggantikan Sidang Arif Malamo. Pada masa pemerintahannya rakyat hidup dengan damai. Bahkan ancaman dari Kerajaan Tidore di bidang militer berkurang secara drastis. 9. Syah Alam 1332 – 1343 M Kolano Syah Alam melakukan penyerangan ke Makian. Hal ini dilakukan untuk menguasai bandar dagang internasional di Makian dan potensi melimpahnya produksi rempah – rempah di daerah ini. 10. Tulu Malamo 1343 – 1347 M Penyerangan yang dilakukan Syah Alam sebelumnya, kemudian ditindaklanjuti oleh Kolano Tulu Malamo dengan pembatalan sepihak haril perjanjian Moloku Kie Raha. Kolano Tulu Malamo bertindak dengan menempatkan Kerajaan Ternate sebagai penguasa teratas. Keputusan ini kemudian menimbulkan rekasi keras dan gencatan senjata kembali digaungkan. 11. Kie Mabiji Abu Hayat I 1347 – 1350 M Kolano Abu Hayat melanjutkan politik ekspansi wilayah dengan berakhirnya perjanjian Moloku Kie Raha. Tetapi masa pemerintahannya tidak berlangsung lama, ia harus gugur dan digantikan oleh Ngolo Macahaya. 12. Ngolo Macahaya 1350 – 1357 M Di era kekuasaan Kolano Ngolo Macahaya, Kerajaan Ternate berhasil menundukkan kawasan Sula. Penaklukan daerah – daerah terus digencarkan. Termasuk di masa pemerintahan Kolano Momole Raja ke-13, 1357 – 1359 M, Kolano Gapi Malamo I Raja ke-14, 1359 – 1372 M, Kolano Gapi Baguna I Raja ke-15, 1372 – 1377 M, dan Kolano Komala Pulu Raja ke-16, 1377 – 1432 M yang berhasil menklukkan wilayah Maluku Tengah, Bum dan Seram Barat. Serta Kolano Marhum Gapi Baguna II Raja ke-17, 1432 – 1486 M yang melakukan penyerangan ke Kerajaan Jailolo. B. Raja Bergelar Sultan 18. Zainal Abidin 1486 – 1500 M Zainal Abidin adalah penerus dari Kolano Marhum. Menurut beberapa catatan sejarah, raja Kerajaan Ternate yang mulai memeluk agama islam pertama kali adalah Kolano Marhum. Peralihan agama kerajaan ini kemudian ditegaskan oleh Zainal Abidin yang mengganti gelar kolano menjadi sultan. Selain itu, Sultan Zainal Abidin juga menambahkan jolobe atau bobato ke dalam struktur pemerintahan Kerajaan Ternate yang terdiri dari para ulama. Sultan Zainal Abidin kemudian menuntut ilmu agama lebih dalam ke Sunan Giri yang berada di pulau Jawa. Ia kemudian mendapat sebutan Sultan Bualawa yang berarti Sultan Cengkih. 19. Sultan Bayanullah 1500 – 1522 M Sultan Bayanullah membuat peraturan wajib menggunakan pakaian islami di lingkungan Kerajaan Ternate. Kemudian mulai dikembangkan pula pembuatan perahu dan senjata untuk memperkuat posisi Kerajaan Ternate. Teknik untuk membuat perahu dan senjata diadaptasi dari orang-orang Arab dan Turki yang singgah di Kerajaan Ternate. Tahun 1506 untuk pertama kalinya Loedwijk de Bartomo atau Ludovico Varthema yang berkebangsaan Portugis berhasil mendarat di Ternate. Kemudian disusul oleh rombongan yang dipimpin Fransisco Serrao tahun 1512. 20. Hidayatullah 1522 – 1529 M Sultan Hidayatullah atau juga dikenal sebagai Sultan Dayalu adalah pewaris takhta kerajaan setelah Sultan Bayanullah. Namun karena masih berusia enam tahun akhirnya kepemimpinan dijalankan oleh ibunya Permaisuri Nukila dan pamannya Pangeran Taruwese. Hal ini memberikan momentum kepada Portugis untuk melancarkan politik adu domba. Permaisuri Nukila mendapat dukungan dari Tidore dihadapkan dengan Pangeran Taruwese yang besekutu dengan Portugis. Setelah memenangkan perang saudara, Portugis justru membunuh Pangeran Taruwese. 21. Abu Hayat II 1529 – 1533 M Sultan Abu Hayat II adalah adik dari Sultan Hidayatullah yang gugur dalam perang saudara melawan Pangeran Taruwese. Sultan Abu Hayat II sangat menentang Portugis yang sering ikut campur urusan Kerajaan Ternate. Akhirnya pada tahun 1531 Sultan Abu Hayat II difitnah melakukan pembunuhan terhadap Gonzalo Pereira, Gubernur Portugis, dan dihukum tangkap. Pada Tahun 1533, Sultan Abu Hayat II dibuang ke Malaka dan wafat di tahun yang sama. 22. Tabariji 1533 – 1534 M Kedudukan Portugis di Kerajaan Ternate Sultan Tabariji adalah saudara tiri dari Sultan Abu Hayat II. Pengaruh Portugis yang sangat kuat di internal Kerajaan Ternate membuatnya dapat melengserkan penguasa yang tidak pro dengannya. Hal ini terjadi pada Sultan Tabariji yang kemudian diasingkan ke daerah Goa, India. Sultan Tabariji dipaksa untuk menyepakati perjanjian penyerahan sebagian wilayah Ternate dan mengubah haluan kerajaan menjadi Kristen. Sebagai imbalan Sultan Tabariji akan dikembalikan ke Ternate dan mendapatkan kembali kedudukannya. Namun, pada perjalanan menuju Ternate Sultan Tabariji wafat. Oleh karenanya siasat Portugis ini menjadi bias, dan Khariun Jamil berkuasa untuk naik takhta sebagai sultan Kerajaan Ternate. 23. Khairun Jamil 1535 – 1570 M Kedudukan Portugis di Kerajaan Ternate Sultan Khairun mengumukan perang mengusir Portugis dari Ternate. Portugis yang sudah mempunyai benteng pertahanan dan titik kekuatan hampir di seluruh Maluku menjadi sangat kuat. Memanfaatkan Aliansi Tiga, yang terdiri dari Ternate, Demak dan Aceh, Kerajaan Ternate meneror posisi Portugis di selat Malaka. Hal ini berakibat pasukan Portugis di Maluku tidak bisa mendapatkan bala bantuan. Kemudian Gubernur Portugis bernama Lopez de Mesquita melakukan intrik jahat dengan membunuh Sultan Khairun saat melakukan perundingan. 24. Baabullah Datu Syah 1570 – 1583 M Relief di Tugu Cengkeh Menceritakan Keberhasilan Pengusian Portugis dari Ternate. Sumber Terbunuhnya Sultan Khairun semakin melecutkan semangat penduduk Ternate untuk mengusir Portugis. Kerajaan Ternate dibantu seluruh Maluku kemudian berhasil menggempur pos pertahanan Portugal di wilayah Indonesia bagian Timur. Akhirnya kemenangan berpihak ke Kerajaan Ternate setelah Portugis berhasil dipukul keluar dari Ternate tahun 1575. Sultan Baabullah berhasil membawa masa kejayaan Kerajaan Ternate dan mendapat julukan penguasa 72 pulau. 25. Said Barakat Syah 1583 – 1606 M Kerajaan Ternate menjadi semakin lemah sepeninggalan Sultan Baabullah. Serangan Spayol yang bersekutu dengan Portugis terjadi 1580. Aliansi dengan Mindanao ternyata tidak cukup untuk menangkal serangan dari Spanyol. Sultan Said Barakati Syah ditawan oleh pihak Spanyol kemudiang dilakukan politik buang ke Manila. 26. Mudaffar Syah I 1607 – 1627 M Kekalahan yang terus dialami Kerajaan Ternate membuat Sultan Mudaffar Syah I meminta bantuan ke Belanda. Atas bantuan Belanda, Spayol dapat diusir dari wilayah Ternate. Namun hal ini mendatangkan polemik lain, yaitu penandatanganan kontrak yang menyetujui Belanda atas nama VOC memonopoli perdagangan rempah rempah di Maluku. Belanda juga meminta hak untuk memdirikan benteng pertahanan bernama Oranje di wilayah Ternate pada tahun 1067. 27. Hamzah 1627 – 1648 M Sultan Hamzah pada masa pemerintahannya menginisiasi pembangunan masjid jami’ Kerajaan Ternate. Masjid ini dibangun sebagai pusat kegiatan agama penduduk Kerajaan Ternate. 28. Mandarsyah 1648 – 1650 M, masa pertama Bangsawan Ternate tahun 1650 meletuskan pemberontakan karena Sultan Mandarsyah dianggap terlalu berpihak kepada Belanda. Pangeran Saidi panglima tertinggi Kerajaan Ternate, Pangeran Majira Raja Ambon dan Pangeran Kalamata Adik Sultan Mandarsyah bersekutu melakukan kudeta untuk menggulingkan kepemimpinan. 29. Manila 1650 – 1655 M Sultan Manila dinobatkan menjadi raja Kerajaan Ternate menggantikan Sultan Mandarsyah. Namun pada tahun 1655 M, Belanda dibawah kepemimpinan Laksamana Arnold de Vlamingh van Oudshoorn memberikan bala bantuan untuk melemahkan aliansi pemberontak dan memulihkan kekuasaan Sultan Mandarsyah. Pangeran Saidi dibunuh dengan keji, sedangkan Pangeran Kalamata dan Pangeran Majira diasingkan oleh Belanda. 30. Mandarsyah 1655 – 1675 M, masa kedua Sultan Mandarsyah kembali menduduki posisi raja Kerajaan Ternate pada tahun 1655. Selama periode kedua kepemimpinannya ini Ia tetap tidak bisa melepaskan ketergantungan dari tangan VOC. Hal ini membuat keputusan yang dikeluarkannya bersifat ambivalen. Kontradiksi dari sikap Sultan Mandarsyah ini kemudian memicu pemberontakan yang dilancarkan oleh putranya, Sibori Amsterdam. 31. Sibori 1675 – 1689 M Sultan Muhammad Nurul Islam atau Sultan Sibori Amsterdam setelah berhasil memberontak ke ayahnya naik takhta pada tahun 1675. Daerah strategis sudah dikuasai oleh Belanda, maka Sultan Sibori terpaksa melipir ke Jailolo. Ia meneruskan perjuangan untuk melemahkan kekuasaan Belanda atas kepulauan Maluku. Namun karena himpitan Belanda semakin kuat, Sultan Sibori terpaksa menandatangani kontrak perjanjian tanggal 7 Juli 1683 untuk menjadikan Kerajaan Ternate sebagai dependen Belanda. Kedaulatan Kerajaan Ternate pun runtuh. Meski begitu bagunan fisik kerajaan tetap dipertahankan dan garis keturunan raja tetap menjalankan roda kepemimpinan di bawah naungan Belanda. Raja raja tersebut terdiri dari Sultan Said Fatahullah Sultan ke-33, 1689 – 1714 M, Sultan Amir Iskandar Zulkarnain Syaifuddin Sultan ke-34, 1714 – 1751M, Sultan Ayan Syah Sultan ke-35, 1751 – 1754 M, Sultan Syah Mardan Sultan ke-36, 1755 – 1763 M, Sultan Jalaluddin Sultan ke-37, 1763 – 1774 M, Sultan Harunsyah Sultan ke-38, 1774 – 1781 M, Sultan Achral Sultan ke-39, 1781 – 1796 M, Sultan Muhammad Yasin Sultan ke-40, 1796 – 1801 M, Sultan Muhammad Ali Sultan ke-41, 1807 – 1821 M, Sultan Muhammad Sarmoli Sultan ke-42, 1821 – 1823 M, Sultan Muhammad Zain Sultan ke-43, 1823 – 1859 M, Sultan Muhammad Arsyad Sultan ke-44, 1859 – 1876 M, Sultan Ayanhar Sultan ke-45, 1879 – 1900 M, dan Sultan Muhammad Ilham Sultan ke-46, 1900 – 1902 M. 47. Haji Muhammad Usman Syah 1902 – 1915 M Arsip Nasional Republik Indonesia ANRI KIT 270/54 Setelah begitu lama Kerajaan Ternate berada di bawah kendali Belanda, akhirnya Sultan Haji Muhammad Usman Syah naik takhta dan mulai Menyusun kembali pergerakan untuk melawan Belanda. Usaha Sultan Haji Muhammad Usman Syah diawali dari rakyat Banggai dengan Hairuddin Tomagola sebagai panglima. Tetapi usaha penyerangan ini menuai kegagalan. Walaupun begitu Kapita Banau yang membawahi rakyat Jailolo, Tuwada, Tudowongi, dan Kao sukses membuat kekacauan yang merugikan Belanda. Meskipun begitu, Belanda dengan kelengkapan militer yang lebih modern membuatnya dapat membalik keadaan. Kapita Banau ditangkap lalu dibunuh. Sedangkan Sultan Haji Muhammad Usman Syah dilengserkan dari jabatan Sultan Kerajaan Ternate lalu tahun 1915 dikirim ke Bandung untuk diasingkan. 48. Iskandar Muhammad Jabir Syah 1929 – 1975 M Pertemuan Sultan Iskandar Muhammad Jabir Syah dari Kerajaan Ternate dengan Dr. Van Mook di Australia. Sumber Arsip Nasional Republik Indonesia ANRI, NIGIS No. A 12792 Kerajaan Ternate mengalami kekosongan kepemimpinan selama 14 tahun sebelum Sultan Iskandar Muhammad Jabir Syah dinobatkan sebagai Sultan pada tahun 1929 M. Awalnya Pemerintah Hindia Belanda berniat untuk menghancurkan Kerajaan Ternate, namun mempertimbangkan perlawanan yang akan diterima dari masyarakat pendukungnya akhirnya hal tersebut tidak dilakukan. 49. Haji Mudaffar Syah Mudaffar Syah II 1975 – 2015 M Dewan Bobato 18 melalukan sidang untuk menentukan raja pengganti dari Sultan Iskandar Muhammad Jabir Syah. Hasilnya kemudian ditunjuk Mudaffar Syah sebagai sultan di Kerajaan Ternate. Karena gejolak Kerajaan Ternate yang masih terjadi, Mudaffar Syah sempat menolak, namun akhirnya menerima dan dinobatkan menjadi sultan. Sultan Mudaffar mempunyai misi untuk membentuk rakyat Ternate yang agamis. Upayanya terlihat dari adanya Jumat Suci di wilayah Ternate. Jumat Suci dilakukan dengan menghentikan semua kegiatan, dan menggantinya dengan membaca Al Quran. Setelah Sultan Mudaffar Syah wafat pada tahun 2015, eksistensi Kerajaan Ternate dinyatakan selesai karena tidak ada lagi penerus yang bisa melanjutkan tampuk kepemimpinan kerajaan. Kehidupan di Kerajaan Ternate A. Kehidupan Ekonomi Ilustrasi kegiatan perdagangan rempah-rempah di Pelabuhan Ternate. Sumber Roda penggerak perekonomian di Kerajaan Ternate adalah pertanian, perdagangan dan sebagian kecil perikanan. Hasil pertanian utama yang dihasilkan dan menjadi daya tarik utama bangsa Eropa adalah rempah-rempah lada, cengkeh dan pala. Perdagangan rempah-rempah yang menggeliat menjadikan Kerajaan Ternate menjadi makmur dan mengalami perkembangan kesejahteraan yang signifikan. B. Kehidupan Sosial & Budaya Korp Musik Kerajaan Ternate Tahun 1893. Sumber Arsip Nasional Republik Indonesia ANRI KIT 217/ 50 Penari Kerajaan Ternate 1930. Sumber Arsip Nasional Republik Indonesia ANRI KIT 1095/79 Kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Ternate terlihat dari interaksi masyarakat lokal dengan pedagang asing yang singgah di kawasan ini. Berbagai pengaruh terjadi termasuk penyebaran agama Islam yang dibawa oleh pedagang dari Arab dan juga adama Katolik yang disebarkan oleh Fransiscus Xaverius, seorang misionaris berkebangsaan portugis. Setelah Islam menjadi agama utama di Ternate, setelah kedatangan bangsa Portugis agama Katolik mulai berkembang di sebagian wilayah Ternate, Ambon dan pulau Halmahera. Sementara itu, kehidupan budaya adanya Kerajaan Ternate memberikan pengaruh terhadap meningkatnya penggunaan Bahasa Ternate di Indonesia bagian timur khususnya penduduk yang mendiami daerah Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Timur, Maluku dan sebagian Papua. Meskipun menggunakan dialek yang berbeda tetapi bahasa yang dinomorsatukan adalah bahasa ternate. Selain itu, di Kerajaan Ternate sudah mengenal musik dan tari-tarian. Hal ini terbukti dari adanya Korp. musik dan tari-tarian untuk penyambutan ketika ada tamu di Kerajaan Ternate. C. Kehidupan Politik Prajurit Kerajaan Ternate. Sumber Arsip Nasional Republik Indonesia ANRI KIT 453/86 Prajurit Kerajaan Ternate Tahun 1893. Sumber Arsip Nasional Republik Indonesia ANRI KIT 1095/ 85 Kehidupan politik Kerajaan Ternate bertumpu pada filosofi Jou Sengofa Ngare. Filosofi ini mewajibkan sultan menjadi ujung tombak dari keselamatan dan kesejahteraan segenap rakyat Kerajaan Ternate. Sultan diposisikan sebagai khalifah sehingga perlakuan dzolim adalah larangan keras, termasuk kepada rakyatnya. Apabila Sultan melakukan pelanggaran maka rakyat berhak melayangkan kritik melalui dean legu kedaton. Kerajaan Ternate mengalami gejolak politik yang hebat. Ancaman dan perjuangan tidak hanya berasal dari kerajaan lain tetapi juga dari kolonial bangsa asing. Setelah berhasil mengentaskan diri dari perang saudara, Kerajaan Ternate masih harus terus berjuang untuk mengusir penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Portugis, Spanyol, Belanda dan bahkan juga Jepang. Keberhasilan Kerajaan Ternate memukul mundur Portugis di bawah pimpinan Sultan Baabullah adalah salah satu bukti bahwa Kerajaan Ternate menduduki posisi penting dalam sejarah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Masa Kejayaan Lambang Kerajaan Ternate. Sumber Kerajaan Ternate berada di puncak kejayaan pada abad ke-16 akhir. Tepatnya ketika Kerajaan Ternate dipimpin oleh Sultan Baabullah. Bukti kejayaannya terletak pada wilayah kekuasaannya yang luas. Bahkan Sultan Baabullah mendapat julukan Sultan 72 Pulau karena berhasil menundukkan kepulauan sebanyak itu. Daerah yang dikuasai Kerajaan Ternate membentang dari wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Timur dan semua pulau pulau kecil yang terhampar di sebelah barat hingga mencapai kepulauan Marshall. Wilayah Filipina bagian utara berhasil diduduki sampai kepulauan Kai. Pulau Nusa Tenggara juga berhasil dikuasai hingga bagian selatan. Sultan Baabullah kemudian menunjuk Sangaji sebagai wakil Kerajaan Ternate yang ditempatkan di masing-masing wilayah kekuasaan. Penyebab Runtuhnya Kerajaan Ilustrasi Kekuasaan Belanda di Kerajaan Ternate. Sumber Kerajaan Ternate runtuh akibat adanya adu domba yang digerakkan oleh koalisi Portugis dan Spanyol. Untuk menangkal gempuran yang terjadi secara terus menerus, akhirnya Sultan Mudaffar Syah I menjalankan politik aliansi dengan Pemerintah Hindia Belanda. Bantuan yang diberikan kemudian harus dibayar mahal karena setelahnya Kerajaan Ternate berada di bawah pengaruh Belanda. Disebabkan tekanan Belanda semakin mendesak, Sultan Sibori Amsterdam terpaksa menandatangani sebuah perjanjian yang menegaskan Kerajaan Ternate sebagai dependen Belanda pada tanggal 7 Juli 1683. Sejak saat itu kedaulatan di Kerajaan Ternate pun runtuh. Silsilah raja di Kerajaan Ternate tetap dilanjutkan meskipun berada di bawah naungan Belanda. Saat Indonesia memperoleh kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Kerajaan Ternate tunduk dan meleburkan diri menjadi bagian dari NKRI. Meskipun begitu hingga pada tahun 2015 Kerajaan Ternate masih memiliki sultan yang aktif. Setelah sultan terakhir dari Kerajaan Ternate wafat dan tidak ada keturunan yang mumpuni untuk menggantikan, akhirnya posisi Kerajaan Ternate saat ini digunakan sebagai simbol adat dan lambing kejayaan Islam di Indonesia bagian timur. Peninggalan dan Sumber Sejarah a. Istana Sultan Ternate Istana Sultan Ternate berlokasi di pesisir daerah Soa-Sio, Kelurahan Letter C, Ternate, Provinsi Maluku Utara. Istana Sultan Ternate menjadi salah satu benda cagar budaya Indonesia sejak 7 Desember 1976. Kerajaan Ternate diserahkan kepada Pemerintah Direktorat Jenderal Kebudayaan untuk dilakukan pemugaran pada masa pemerintahan Sultan Mudafar Syah. Bangunan istana menghadap ke arah laut dan dikelilingi dinding dengan ketinggian kurang lebih 3 meter. Desain interiornya dipenuhi dengan hiasan yang terbuat dari emas. Di dalam istana ini ada beberapa benda tinggalan kerajaan seperti mahkota raja, perhiasan emas, juga baju kebesaran raja yang disulam menggunakan benang emas. Komplek perumahan anggota kerajaan masih berada di sekitar bangunan istana. Di lokasi yang sama dengan istana terdapat makam raja terdahulu dan masjid jami Kerajaan Ternate. b. Masjid Jami Ternate Masjid Jami Kerajaan Ternate juga dikenal dengan nama Sigi Lamo. Pembangunannya dilakukan saat berkuasanya sultan ke-28 Kerajaan Ternate. Arsitektur Masjid berbentuk limah dengan 6 undakan. Beberapa hal unik yang melekat dengan Masjid Jami Kerajaan Ternate antara lain adalah kewajiban mengenakan kopiah saat memasuki masjid, dan juga larangan menggunakan sarung. Sehingga, jika ingin beribadah di masjid ini hendaknya menggunakan celana panjang. c. Makam Raja Makam Sultan Baabullah terletak di pucak bukit Foramadiahi. Akses menuju makam dilalui dengan pendakian di kaki gunung Gamalama kurang lebih 1 km. Jalananya dibangun tembok dengan pohon cengkih dan pala berada di sisi kiri dan kanan jalan. d. Al Quran Tulisan Tangan Al Quran tulis tangan peninggalan Kerajaan Ternate adalah Al Quran tertua di Asia Tenggara. Penulisannya dilakukan di pelepah kulit kayu menggunakan tinta berwarna hitam dan merah. Saat ini Al Quran tulis tangan ini tersimpan di kediaman Saleh Panggo Gogo, di Alor Besar, Nusa Tenggara Timur. Hal ini menjadi bukti penyebaran islam di kepulauan Alor yang dilakukan oleh Kerajaan Ternate tahun 1519. e. Alat Perang Alat perang Kerajaan Ternate yang digunakan di masa lalu masih tersimpan dengan apik di dalam bangunan Istana. Jenis alat perang tersebut terdiri dari tombak dengan ujungnya berbentuk lancip yang terbuat dari logam, tongkat kebesaran pasukan kerajaan, pedang, pakaian perang dan lain lain. f. Benteng Tolukko Benteng Tolukko adalah benteng buatan bangsa Portugis ketika berada di Ternate dengan mengantongi izin dari Sultan Kerajaan Ternate. Benteng ini dibangun tahun 1540 atas prakarsa Panglima Fransisco Serao di sepanjang daerah Sangadji, Ternate Utara, Kota Ternate. Konstruksinya terbuat dari batu kali, pecahan batu bata dan batu karang yang dicampur dengan pasir dan batuan kapur sebagai perekat. Demikian ini pemaparan mendetail tentang Kerajaan Ternate. Semoga ulasan ini semakin membuat kita open minded terhadap hikmah rasional yang bisa diambil dari cerita sejarah. Kerajaan Ternate adalah semangat dari masa lalu yang menggemakan antikolonialisme dengan gigih. Kekuatan positif yang hebat ini membuktikkan bahwa sesungguhnya bangsa Indonesia sudah tercetak menjadi bangsa yang kuat dan tangguh. Mudah-mudahan spirit ini bisa kita implementasikan untuk membangun Indonesia yang lebih keren.
Ternate. Setelah melewati pertarungan pada ajang MTQ XXIX yang di laksanakan oleh Dinas Kesejahteraan Rakyat yang bekerja sama dengan pemerintah Kota Ternate dalam menggelar MTQ dengan tema "MEWUJUDKAN REVOLUSI MENTAL KOTA TERNATE DALAM PEMANTAPAN NILAI ISLAM" sudah memasuki hari terakhir yaitu penutupan, pada Selasa (15/2/2022) nanti malam. Mahdi Nurdin selaku Asisten 2
Destinasi Wisata di Ternate – Ternate merupakan kota kepulauan yang terdiri dari delapan pulau meliputi pulau Ternate, pulau Hiri, pulau Moti, hingga pulau Tifure. Berada di bawah kaki gunung Gamalama, pesona wisata Ternate menjadi daya tarik yang cukup unik. Tak heran jika berkunjung ke Ternate bisa jadi pengalaman liburan yang sangat berkesan. Penasaran hal apa saja yang bisa Toppers lakukan saat liburan ke salah satu kota terbesar di Maluku Utara ini? Yuk, simak rekomendasi objek wisata di Ternate yang jadi pilihan favorit traveler. Baca jugaMenyusuri 10 Pesona Wisata Amahai & Pulau Seram Paling Indah! 1. Batu Angus Sumber gambar Indonesia Kaya Ternate kaya akan panorama eksotis, salah satunya bisa Toppers temukan di objek wisata Ternate satu ini. Dikenal dengan nama Batu Angus, destinasi wisata di Ternate ini menurut serajah terbentuk dari aliran lava yang membeku saat letusan Gunung Gamalama 1907 silam. Berkunjung ke objek wisata Ternate ini Toppers akan disuguhkan pemandangan bongkahan batu-batu sepanjang 2 km dan berakhir pada tebing terjal dimana kamu bisa melihat panorama lautan. 2. Pantai Kastela Sumber gambar Lelungan Sebagai kota kepulauan, jelas Ternate menawarkan banyak sekalo objek wisata pantai yang menarik. Salah satunya adalah Pantai Kastela. Objek wisata alam di Ternate satu ini memiliki suasana asri dan juga atmosfer yang menyegarkan. Soal panorama, jangan ditanya karena pantai sudah sangat termasyur dengan keindagan pemandangan matahari terbenamnya. Dibalik pepohonan yang berada dipinggir pantai, cahaya matahari senja memberikan suasana romantis yang manis. Daya tarik lain pantai Kastela adalah kuliner Pisang Mulubebe, makanan ringan tradisional khas yang bisa Toppers cicipi saat berlibur di pantai ini. Berdekatan dengan pantai ini, Toppers juga bisa mampir ke destinasi wisata di Ternate lainnya yaitu Benteng Gamlamo dan Monumen Sultan Khairun. 3. Pantai Sulamadaha Sumber gambar Hipwee Destinasi wisata pantai di Ternate selanjutnya adalah Pantai Sulamadaha yang lokasinya tak jauh dari Batu Angus. Pantai yuang berada di teluk ini memiliki pasir putih dengan ombak tenang yang mampu menyegarkan kepenatanmu. Pantai ini sangat terkenal akan perairannya yang jernih sehingga menjadi spot snorkeling yang cukup digemari. Saking jernihnya perairan di tujuan wisata Ternate satu ini, orang-orang kerap menyebutkan bahwa kamu bisa menemukan perahu-perahu di pantai ini tampak seperti melayang. Untuk mencapai lokasi snorkeling Toppers perlu menyewa perahu masyarakat setempat dengan harga yang terjangkau. 4. Gunung Gamalama Sumber gambar Tribunnews Gunung Gamalama merupakan ikon wisata alam Ternate yang sudah sangat populer. Mengunjungi objek wisata Terante ini, Toppers akan disuguhkan pemandangan hamparan perkebunan cengkeh di sepanjang lereng hingga hijaunya hutan. Jika Toppers suka mendaki gunung, dari atas gunung Toppers bisa melihat lebih jelas pemandangan alam Pulau Ternate hingga pulau-pulau disekitarnya seperti Pulau Halmahera dan juga Pulau Tidore yang dihubungkan hamparan birunya permukaan laut. 5. Danau Tolire Sumber gambar Tribunnews Berlokasi di Ternate utara dengan menempuh jarak sekitar 10 km dari pusat Kota Ternate, Toppers bisa menjumpai Danau Tolire, objek wisata Ternate yang memiliki keindahan tak kalah dari objek wisata Ternate lainnya. Banyak cerita rakyat seputar keberadaan Danau ini, mulai dari keberadaan siluman Buaya yang membuat penduduk tidak berani menangkap ikan-ikan yang ada di danau hingga kepercayaan bahwa setiap orang yang melemparkan batu atau benda berat ke danau ini, batu tersebut tak akan pernah berhasil menyentuh permukaan danau. Jadi, tak heran jika Toppers akan menjumpai banyak orang menjual batu di sekitar objek wusata satu ini. 6. Danau Laguna Sumber gambar Kompas Buat yang suka objek-objek wisata yang instagramable, kawasan wisata Ternate satu ini bisa jadi destinasi yang tepat. Danau Laguna berlokasi di Desa Ngade yang dikenal juga dengan nama Danau Ngade kini tengah menjadi tujuan wisata yang hits di Ternate. Dikawasan ini, Toppers bisa menikmati pemandangan alam dari ketinggian. Panorama Pulau Maitara dan Pulau Tidore bisa terlihat jelas dan menjadi objek yang tepat untuk ditangkap menggunakan lensa kamera kamu. Baca juga Liburan ke Lombok? Jangan Lupa untuk Mengunjungi 10 Tempat Menawan Ini! 7. Pantai Bobane Ici Sumber gambar Indonesia Kaya Suka dengan kuliner seafood? Jika ya, maka destinasi wisata di Ternate satu ini boleh masuk dalam daftar tujuan wisata saat ke Ternate. Pantai Bobana Ici memiliki ombak yang sangat ganas sehingga Toppers tidak dianjurkan untuk berenang atau bermain air. Tapi, daya tarik utama tempat wisata di Ternate satu ini adalah berbagai kuliner laut yang bisa dicicipi di berbagai warung makan di pinggiran pantai. Salah satu menu andalah yang populer adalah ikan bakar-nya. Menikmati lezatnya ikan bakar dengan panorama lautan berombak serta udara dengan angin sepoi-sepoi tentu bisa memberikanmu pengalaman tersendiri saat liburan di Ternate. 8. Benteng Kastela Sumber gambar Situs Budaya Objek wisata bersejarah di Ternate memiliki pesona yang tak kalah menarik. Salah satu yang bisa Toppers kunjungi adalah Benteng Kastela yang dibangun oleh Portugis yang juga dikenal dengan nama Benteng Gam Lamo. Benteng ini sendiri di bangun pada 1521 oleh Antonio de Brito dengan nama Nostra Senora del Rosario saat itu. Namun pembangunan ini lanjutkan oleh Garcia Henriques pada 1525 dan selesai pada 1540 oleh Jorge de Gastro. Dikomplek objek wisata ini Toppers juga bisa menemukan relief yang menceritakan kisah terbunuhnya Sultan Khaerun, Sultan Ternate yang ke-25 saat memenuhi undangan makan malam oleh Antonio Pimetal atas perintah Gubernur Lopez de Mosquita yang menjadi pemicu perlawanan Ternate terhadap kolonialisasi Portugis kala itu. 9. Museum Kedaton Sultan Ternate Sumber gambar Indonesia Kaya Dibangun pada 1813 atas perintah Sultan Muhammad Ali, bangunan museum ini dirancang oleh arsitek dari Tiongkok sebagai kediaman Sultan. Destinasi wisata Ternate ini sangat cocok untuk Toppers yang ingin mengenal lebih dalam mengenai sejarah dan budaya masyarakat Ternate. Berbagai koleksi seperti benda geologi, etnografi, arkeologi, sejarah, numismatik, filologi, teknologi, seni rupa, dan keramik bisa Toppers temukan di Museum Kedaton Sultan Ternate ini. 10. Bukit Ngade Sumber gambar Wisata Lengkap Tak cuma pemandangan alamnya saja, panorama kota Ternate juga sangat cantik terutama kala matahari telah terbenam. Mengunjungi Bukit Ngade bisa jadi alternatif wisata Ternate yang menarik karena disini Toppers bisa menikmati panorama Ternate dari ketinggian yang sangat indah. 11. Pantai Falajawa Pantai Falajawa berada tidak jauh dari pusat kota sehingga cocok jadi destinasi wisata di Ternate untuk kamu yang mungkin tidak memiliki waktu untuk mengksplorasi destinasi wisata Ternate yang jauh. Dengan kondisi fasilitas yang lebih memadai, Pantai Falajawa juga kerap menjadi tempat nongkrong anak muda setempat. Disini, Toppers bisa berfoto dengan tulisan Ternate yang menjadi ciri khas dari tempat wisata Ternate satu ini. 12. Benteng Talukko Sumber gambar Indonesia Kaya Benteng Talukko adalah sisa-sisa peninggalan Portugis lainnya di Ternate yang kini menjadi destinasi wisata sejarah ternate yang populer. Dibangun oleh Fransisco Serao, pangilma Portugis pada 1540 benteng ini sempat diambil alih Belanda pada 1610. Pada 1996-1997, pemerintah Republik Indonesia memugar kembali benteng ini dan menjadi salah satu peninggalan bersejarah yang ada di Ternate. Baca juga 11 Tempat Snorkeling Wajib Coba Liburan Ini Banyak sekali bukan destinasi wisata di Ternate yang bisa jadi referensi untuk traveling seru Toppers selanjutnya. Mulai dari keindahan alam hingga wisata sejarah bisa ditemui di Ternate. Ingin rencanakan traveling lebih praktis? Manfaatkan aplikasi Tokopedia untuk mewujudkan liburan impianmu! Mulai dari beli tiket pesawat dan kereta api hingga kebutuhan seperti koper dan tas ransel bisa ditemukan dengan mudah di Tokopedia. Yuk, mulai petualanganmu di Ternate!
\n \n\n \n\n \nkehidupan malam di ternate
Dapatdijumpai di mana-mana mantra itu di seluruh Tanah Air. Penggunaan dan tujuannya sama. Dalam budaya masyarakat Ternate masa lampau, mantra berfungsi untuk: pengobatan, kekebalan dengan tujuan membela din dan perkelahian ataupun peperangan, agar dikasihi orang, memohon pertolongan dan ruh gaib, mengucap syukur pada ruh gaib, atau menolak bencana. Kerajaan Ternate – Kesultanan Ternate berdiri sejak abad ke-13 Masehi, Di mana letak Kerajaan ternate? kerajaan terletak di Maluku Utara. Kesultanan Ternate merupakan kerajaan Islam tertua yang ada di Maluku. Pada tahun 1257 tepatnya pada saat didirikan oleh Momole Ciko yang memiliki gelar Bahan Mashur Malamo kesultanan bukan kerajaan uang bercorak Islam. Tetapi pada abad ke-15 Masehi agama Islam masuk ke Maluku dan Raja Ternate pertama yang memeluk agama Islam ialah Kolano Marhum 1466-1468. Lalu bagaimana cerita sejarah dari masa kejayaan, masa runtuhnya kerajaan sampai dengan peninggalan kerajaan? Simak penjelasan berikut ini! Sejarah Kerajaan Ternate Kerajaan Gapi atau yang lebih dikenal dengan Kesultanan Ternate berdiri pada tahun 1257 oleh Baab Mashur Malamo. Kesultanan Ternate merupakan salah satu kerajaan Islam tertua yang ada di Nusantara. Kesultanan Ternate terdiri dari wilayah Maluku, Sulawesi Utara, timur, dan tengah. Kemudian bagian selatan kepulauan Filipina hingga Kepulauan Marshall di Pasifik. Masuknya agama Islam dibantu dengan kegiatan yakni perdagangan. Sejarah Kerajaan Islam mulai menyebar dari wilayah Malaka dan juga Jawa pada abad ke-15. Sehingga di wilayah Maluku disebut dengan Kue Raha Maluku Empat Raja nama tersebut dikarenakan di Maluku sendiri terdapat 4 kerajaan Islam. Kerajaan tersebut meliputi Kesultanan Ternate dibawah kepemimpinan Sultan Zainal Abidin 1480-1500, Kesultanan Tidore di bawah kepemimpinan Sultan Mansur, Kesultanan Jailolo dibawah kepemimpinan Sultan Sarajati dan yang terakhir yakni Kesultanan Bacan dibawah kepemimpinan Sultan Kaicil Buko. Kedua kerajaan Ternate dan Tidore yang terletak di sebelah Pulau Halmahera Maluku Utara dulunya adalah kerajaan yang bekerjasama untuk menghadapi kekuatan-kekuatan asing yang ingin mencoba untuk menguasai Maluku. Tetapi perkembangan yang selanjutnya, kedua kerajaan tersebut bersaing untuk merebutkan Hegemoni Politik yang ada di kawasan Maluku. Kedua kerajaan tersebut juga penghasil rempah-rempah yakni pala dan cengkeh. Sehingga dikenal menjadi pusat perdagangan rempah-rempah. Kesultanan Ternate menguasai wilayah sebagian besar yakni Maluku, Gorontalo, dan Banggai yang ada di Sulawesi bahkan sampai Flores dan Mindanao. Sedangkan Kesultanan Tidore berkuasa di wilayah Maluku yang berada di bagian Timur dan juga pantai-pantai Irian Papua. Masa Kejayaan Kerajaan Ternate Masa Kejayaan Kerajaan Ternate mencapai puncak kejayaannya pada masa kepemimpinan Sultan Baabullah. Pada saat itu Sultan Baabullah berhasil menyingkirkan kekuasaan dari orang Portugis dan juga Maluku Utara. Keberhasilan lainnya yang dilakukan oleh Sultan Baabullah adalah berhasil meluaskan wilayah kekuasaannya hingga ke wilayah Mindanao yakni yang berada di sebelah Utara dan disebelah selatan Hitu Ambon. Ternate memiliki kekuasaan sebanyak 72 pulau besar dan juga kecil. Kesultanan Ternate juga mencapai kejayaan dan bidang perdagangan rempah-rempah dan juga kekuatan militernya pada abad ke-13 hingga abad ke-19 Masa Runtuhnya Kerajaan Ternate Masa Runtuhnya Runtuhnya Kerajaan Ternate disebabkan adanya adu domba yang dilakukan oleh bangsa asing, yakni Portugis dan Spanyol. Bangsa asing tersebut berusaha untuk memonopoli daerah yang merupakan penghasil rempah-rempah. Hal tersebut diketahui oleh Sultan Ternate dan juga Sultan Tidore sehingga mereka bersatu untuk mengusir Portugis dan juga Spanyol. Hal tersebut berhasil dilakukan, sehingga Portugis dan Spanyol meninggalkan Kepulauan Maluku. Tidak lama dari kejadian tersebut, Belanda membentuk VOC dengan tujuan untuk menguasai perdagangan rempah-rempah yang ada di Maluku. Belanda menyusun strategi dan cara kerja yang rapi cara kerja yang rapi dan terkontrol, sehingga mereka berhasil menaklukan Kesultanan Ternate. Kehidupan Kerajaan Ternate Kehidupan yang ada pada masyarakat Kesultanan Ternate dibagi menjadi 3 aspek yakni, Aspek Politik, Aspek Ekonomi dan Aspek Sosial dan Budaya. Berikut ini merupakan penjelasan dari masing-masing aspek yang ada! Kehidupan Politik Kerajaan Ternate Kehidupan Politik Kerajaan Ternate merupakan pemimpin Uli Lima. Uli Lima adalah persekutuan lima bersaudara. Sedangkan Uli Siwa mempunyai arti persekutuan sembilan bersaudara. Pada saat itu Portugis lebih memihak dan juga membantu Ternate, karena mereka beranggapan bahwa Ternate jauh lebih kuat. Sedangkan Spanyol lebih memilih kerajaan Tidore. Hal tersebut mengakibatkan peperangan antara 2 bangsa kulit, peperangan tersebut menyebabkan Paus turun tangan dan membuat perjanjian Saragosa. Perjanjian tersebut berisi bahwa bangsa Spanyol harus bersedia meninggalkan Maluku yang kemudian pindah ke Filipina. Sedangkan untuk Portugis sendiri tetap berada di Maluku. Pada saat itu Portugis mendirikan benteng yang diberi nama Benteng Santo Paulo. Tetapi tindakan tersebut mendapat kebencian dari rakyat dan juga pejabat dari kerajaan Ternate sendiri. Sehingga pada saat itu Sultan Hairun secara langsung menentang politik monopoli yang dilakukan oleh bangsa portugis. Sedangkan pada masa Sultan Baabullah yang merupakan putra dari Sultan Hairun memilih untuk bangkit dan menengang Portugis. Sehingga Portugis berhasil dikalahkan dan meninggalkan benteng pada tahun 1575 Masehi. Kehidupan Ekonomi Kerajaan Ternate Kehidupan Ekonomi Pertanian dan perdagangan merupakan mata pencaharian utama dari Masyarakat Maluku. Hal ini didukung oleh tanah yang ada di Maluku subur dan dipenuhi dengan hutan rimbah, sehingga cengkih dan pala banyak di wilayah tersebut. Rempah-rempah yang paling sangat di perlukan untuk obat-obatan adalah cengkih dan juga Pala. Sehingga rempah-rempah menjadi bahan yang harus tersedia terutama di daerah dingin seperti Eropa. Hasil tersebutlah yang membuat rakyat Maluku maju secara pesat. Karena perkembangan perdagangan secara pesat, hal ini mengakibatkan terbentuknya suatu persekutuan. Tetapi tidak hanya pertanian dan perdagangan, tetapi mata pencaharian juga mendukung meningkatnya perekonomian dari Masyarakat. Kehidupan Sosial dan Budaya Kerajaan Ternate Kehidupan Sosial dan Budaya Portugis datang ke wilayah Ternate dengan tujuan untuk menjalin perdagangan dan juga mendapatkan rempah rempah, bukan hanya itu Portugis juga berniat untuk mengembangkan agama Katolik. Sehingga pada tahun 1534 agama Katolik berhasil menguasai Halmahera, Ternate, dan juga Ambon. Portugis berhasil memancing pertikaian dari para pemeluk agama. Hal ini dikarenakan sebagian dari penduduk Ternate merupakan pemeluk agama Islam. Hal ini mengakibatkan Portugis seolah-olah menguasai bidang pemerintahan yang ada. Hal tersebut tidak berhenti, pada saat Belanda masuk ke wilayah Maluku. Pemeluk agama Katolik harus pindah menjadi agama Protestan. Hal tersebut menimbulkan masalah sosial yang sangat besar dan masyarakat menjadi semakin tertekan. Di bawah kepemimpinan Sultan Ternate, masyarakat mengibarkan perang umum. Tetapi hal tersebut dapat diatasi oleh kompeni Belanda. Sehingga masyarakat tidak bisa menentang dan hidup dengan memprihatinkan pada zaman Kompeni Belanda. Untuk kehidupan Budaya sendiri. Rakyat Maluku didominasi oleh aktivitasnya perekonomian. Tidak begitu banyak budaya yang dihasilkan oleh Masyarakat Maluku. Raja Kerajaan Ternate Siapa raja kerajaan ternate? Kerajaan Ternate juga dipimpin oleh beberapa raja, baik itu disaat sebelum memeluk agama Islam atau sesudah memeluk agama Islam. Daftar Raja Masa Pra-Islam 1257 – 1277 Ciko atau Baab Mashur Malamo 1277 – 1284 Poit atau Kaicil Yamin 1284 – 1298 Siale atau Kaicil Kamalu 1298 – 1304 Kalabatta atau Kaicil Bakuku 1304 – 1317 Komala atau Ngara Malamo 1317 – 1322 Patsyaranga Malamo 1322 – 1331 Sida Arif Malamo 1331 – 1332 Paji Malamo 1332 – 1343 Shah Alam 1343 – 1347 Tuhu Malamo 1347 – 1350 Boheyat atau Kaicil Kie Mabiji 1357 – 1357 Ngolo Mahacaya 1357 – 1359 Momole 1359 – 1372 Gapi Malamo 1372 – 1377 Gapi Baguna I 1377 – 1432 Kumala Putu 1432 – 1405 Gapi Baguna II Daftar Raja Masa Islam 1466 – 1468 Kolano Marhum 1486 – 1500 Sultan Zainal Abidin 1500 – 1522 Sultan Bayan Sirullah 1522 – 1529 Sultan Deyalo 1529 – 1532 Sultan Boheyat 1532 – 1535 Sultan Tabariji 1535 – 1570 Sultan Khairun Jamil 1570 – 1583 Sultan Babullah 1583 – 1606 Sultan Saidi Saifuddin 1606 – 1610 Sultan Hidayat 1610 – 1627 Sultan Mudaffar 1627 – 1648 Sultan Hamzah 1648 – 1672 Sultan Mandar Syah 1672 – 1690 Sultan Sibori 1690 – 1692 Kekuasaan Ternate dijalankan para Bobato 1692 – 1714 Kaicil Toloko 1714 – 1751 Kaicil Raja Laut 1751 – 1754 Oud Hoorn 1754 – 1777 Sahmardan 1777 – 1796 Arunsah 1796 – 1801 Sarka atau Sarkan 1801 – 1807 Muhammad Yasin 1807 – 1823 Sarmole van der Parra 1823 – 1861 Muhammad Zain 1861 – 1876 Muhammad Arsyad 1876 – 1900 Ayanhar II 1900 – 1902 Haji Muhammad Ilham 1902 – 1914 Haji Muhammad Usman 1914 – 1927 Kekuasaan Kesultanan Ternate lowong 1929 – 1975 Iskandar Muhammad Jabir Syah 1975 – 2015 Haji Mudaffar Syah Mudaffar Syah II Peninggalan Kerajaan Ternate Kesultanan Ternate juga meninggalkan beberapa bukti peninggalan-peninggalan yang ada. Peninggalan-peninggalan Istana Sultan Ternate Benteng Kerajaan Ternate Masjid yang berada di Ternate Penutup Demikian penjelasan tentang Kesultanan Ternate, pembahasan yang dimulai dari sejarah, masa kejayaan dan masa runtuhnya kerajaan, cerita tentang kehidupan masyarakat yang ada pada saat itu, silsilah raja dan juga peninggalan dari kerajaan Ternate. Semoga artikel ini bisa bermanfaat dan bisa menambahkan wawasan buat kalian semua terutama pada bidang sejarah, karena sejarah bukan untuk dilupakan, tapi sejarah untuk dijaga dan dirawat! Kerajaan TernateSumber Referensi
MalamPuncak "NGAMEN NGAMAL" @ Taman Benteng Orange Ternate Event Amal bertajuk : "BANTU TIMUR" (Peduli Halmahera Utara & Barat) Kegiatan kolaborasi berbagai Element dan Komunitas di Kota Ternate. Solidaritas untuk saudara-saudara kita di Halmahera Utara & Halmahera Barat yang terkena musibah banjir & longsor.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. i Indonesia, Islam adalah agama mayoritas yang dianut oleh penduduknya, dan bahkan menjadi umat Islam terbesar di dunia. Padahal, berdasarkan sejarah Islam bukanlah agama pertama yang masuk ke Indonesia namun, justru kedudukan Islam di tengah-tengah masyarakat Indonesia terbilang sangat indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia, menunjukan bahwa Islam mampu memberi perubahan di tengah perbenturan sosio-kultural tersebut. Dan Islam kini menjadi bagian penting dari setiap sendi kehidupan masyarakat Indonesia, bahkan hingga pada aktivitas adat istiadat. Kota Ternate menjadi salah satu daerah dengan eksistensi budaya yang masih terbilang aktif hingga kini. Daerah yang terletak di sebelah barat pantai halmahera ini dulunya terkenal dengan masyarakatnya yang memiliki kepercayaan pada hal-hal yang berbau ghaib, serta mereka percaya bahwa ada kekuatan besar yang mengendalikan alam semesta. Sehingga saat Islam masuk dengan membawa konsep ketuhanan, menjadikannya cukup mudah untuk diterima masyarakat walaupun Islam tetap harus berhadapan terlebih dahulu dengan beberapa benturan sosio-kultural. Kini setelah mampu melewati benturan tersebut, Islam tumbuh pesat di Ternate bahkan dijadikannya Islam sebagai agama resmi kerajaan Ternate. Resminya Islam sebagai agama kerajaan, membawa banyak perubahan besar dalam setiap aktivitas masyarakat kerajaan Ela-ela merupakan pembakaran obor yang diartikan dalam bahasa ternate."Ela-ela" adalah sebuah istilah lokal Ternate berarti "menyalakan obor", yang kebetulan secara lafal memiliki bunyi yang dekat dengan kata "Lailah" sebagai bagian dari istilah "Lailatul Qadar".Tradisi ini selalu diselenggarakan setiap tahun pada bulan suci ramadhan menyambut malam lailatul Qadar. Bagi umat muslim Lailatul Qadar adalah malam yang penting yang terjadi dalam bulan ramadhan dan dekat dengan Hari Raya Idul Fitri. Lailatul Qadar juga diperingati sebagai malam diturunkannya kitab suci Al-Quran. Seperti tradisi masyarakat Kota Ternate saat tiba waktu malam Lailatul Qadar. Festival ela-ela di kota Ternate menjadi tradisi turun temurun yang masih dipertahankan hingga saat ini,pada kegiatan festival ela-ela berisi ritual penyambutan malam lailatul Qadar dan diawali dengan pembacaan doa di kedaton kesultanan ini diikuti oleh seluruh masyarakat kota ternate. Seluruh warga kota ternate membakar obor di depan halam rumahnya dari malam hingga pagi tak hanya obor ada pula warga yang menambahkan damar sehingga hampir seluruh wilayah kota ternate tercium aroma harum bau damar. Tradisi membakar obor ini sudah diwariskan sejak ratusan tahun masyarakat di malam 27 ramadhan akan turunnya malaikat dari itu masyarakat menyambut dengan cara menerangi kampung dengan obor dan mengharumkan dengan konfirmasi ayat Alquran bahwa "Jibril dan para Malaikat akan turun ke Bumi pada malam Lailatul Qadar" QS. Al-Qadr{97}ayat 4.Malam Ela-ela sejatinya adalah cara cerdas Ulama Ternate masa lalu mewariskan ajakan untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan, khususnya 10 malam terakhir. Keriuhan masyarakat dengan pernak-pernik obor adalah wadah yang sejatinya perlu dimanfaatkan sebagai ajang memperbanyak Ibadah di malam Lailatul Qadar. Sebuah tafa'ul ekspresi harapan berupa ritual yang sejatinya kental dengan nilai spiritual dari sekian tradisi luhur pada beberapa daerah lain di Indonesia. Warisan tradisi kadang lebih menitikberatkan ritual dan prestise daerah dalam bingkai ekspos keragaman budaya. Sementara nilai dan spirit yang terkandung di dalamnya tidak jarang terabaikan dan tenggelam dalam hiruk-pikuk kehebohan kedepannya tradisi Ela-ela dapat dikemas secara utuh. Lengkap dari sisi ritual dan sarat dengan nilai luhur yang diresapi oleh masyarakat. Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya

TERNATE Polisi menggagalkan penyelundupan minuman keras jenis Cap Tikus di kawasan Pelabuhan Ahmad Yani Ternate. Ada 10 liter miras dengan enam kantong plastik dibawa dari Manado Sulawesi Utara. Kabid Humas Polda Maluku Utara, Kombes Pol Adip Rojikan, membenarkan adanya dugaan penyelundupan miras ke Ternate.Kasus ini terungkap saat polisi menggelar patroli dialogis di kawasan
Semua hal yang dapat dilakukanBar & KlubBar KaraokeCocok untuk PasanganTerjangkauCocok untuk Anak-AnakCocok untuk Kelompok BesarLokasi bulan maduCocok untuk Penggemar Aktivitas EkstremTempat yang Belum DikenalMasuk GratisBerjiwa petualangBagus Saat Hujan
KBRN Ternate: Perayaan malam pergantian tahun dari 2021 ke 2022 di wilayah Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara (Malut) berjalan aman dan kondusif. Kapolres Ternate, AKBP Aditya Laksimada melalui PS. Kasihumas, Ipda Wahyuddin saat dikonfirmasi RRI, Sabtu (1/1/2022) mengatakan, kegiatan perayaan malam

Salah satu room club malam Ternate saat di razia Petugas – Sejumlah tempat hiburan malam atau club malam di wilayah Kota Ternate kena razia tim gabungan TNI-Polri, Minggu 28/2 dini hari. Razia tersebut guna mencegah peredaran narkoba dibawah pimpinan Direktur Reserse Narkoba Ditresnarkoba Polda Malut Kombes Pol. Tri Setyadi Artono bersama 42 personil, serta melibatkan sejumlah anggota Detasemen Polisi Militer Denpom Ternate. Kabid Humas Polda Malut Kombes Pol. Adip Rojikan mengaku, sebanyak tiga tempat hiburan dirazia. Diantaranya diantaranya Resto Big brown, Royal, dan Qbeat. Dengan sasaran kepada orang atau oknum anggota TNI- Polri, benda bercirikan narkoba serta bahan berbahaya lainnya. Menurut Adip, dalam pelaksanaan razia personil gabungan juga menghimbau orang-orang di tempat hiburan malam itu tetap menerapkan protokol kesehatan covid-19. “Personel juga melakukan pengecekan dan pengeledahan barang bawaan setiap orang yang mendatangi tempat hiburan malam” proses razia gabungan itu, kata Adip, juga dilakukan pengecekan dugaan penyalahgunaan narkoba dengan menggunakan saliva tes atau air liur serta teskit urine. Maka sekitar 35 orang di tes menggunakan saliva tes dan 10 orang menggunakan teskit urine namun hasilnya semua negatif. Menurut Adip, razia itu merupakan tindaklanjut perintah pimpinan guna menciptakan Malut bebas dari peredaran narkoba. Maka sejalan dengan perintah pimpinan karena itu setiap anggota Polri tanpa surat perintah tugas di larang masuk ke tempat hiburan malam yang didalamnya terdapat aktifitas minuman keras maupun prostitusi. “Apabila kedapatan personel Polri berada di Tempat Hiburan Malam tanpa surat perintah tugas maka akan ditindak tegas melalui Bidpropam Polda Malut” tegasnya. Adip menambahkan, kegiatan razia narkoba ini akan terus dilakukan Polda Malut guna menciptakan situasi yang kondusif dan bebas narkoba di Wilayah Malut. “Kami juga himbau ke masyarakat yang melihat adanya tindak pidana narkoba agar tidak sungkan-sungkan melaporkan kepada pihak kepolisian terdekat” imbuhnya mengahiri. Red

MAJTAAR-RAUDHAH NOORUSSALAM Desa Danau Panggang, Kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan.CHANNEL MAJTA AR-RAUDHAH NOORUSSA
Jakarta - Ternate merupakan kota terbesar di Maluku Utara. Namanya berasal dari ungkapan Tarinata, yang artinya keras dan kasar. Hal itu menjadi gambaran karakter penduduk Ternate. Sebelum menjadi kota administratif, Ternate lebih dulu dikenal sebagai kerajaan Kesultanan Gapi, yakni kerajaan Islam pertama yang ada di Maluku. Meski tergolong kerajaan kecil, pengaruhnya besar di sekitar kawasan timur Indonesia. Jahe hingga Kapulaga, 5 Rempah Alami Ini Ampuh Redakan Peradangan Pembuat Jam Tangan Mandiri di China Membuat Arloji Rp1 Miliar dan Diakui Dunia Mengaku Sudah Bayar Denda, Sejumlah Pria Rusak Fasilitas di Kamar Hotel Tanah Ternate yang memiliki luaas kilometer persegi itu dikenal sangat subur untuk ditanami rempah-rempah, seperti pala dan cengkeh. Hasilnya pun sangat melimpah hingga selama berabad-abad, Ternate dijadikan sebagai pusat benteng Portugis dan VOC Belanda untuk perdagangan rempah-rempah. Apa lagi hal menarik lain yang dimiliki Ternate? merangkum enam fakta di antaranya yang dikutip dari berbagai sumber, Jumat, 12 Maret 2021. 1. Pulau Rempah Ternate sangat strategis dan penting dalam dunia perdagangan karena di situlah rempah-rempah dihasilkan. Ternate sampai dijuluki sebagai The Spice Island karena merupakan penghasil rempah-rempah terbesar. Rempah-rempah adalah komoditas utama perdagangan warga setempat. Pada pertengahan abad ke-15, bangsa Eropa, seperti Portugis, Spanyol, dan Belanda, berloma-lomba menguasi Ternate, Maluku Utara, karena tertarik dengan keberadaan rempah-rempah tersebut. Selain itu, banyak juga pedagang Jawa, Melayu, Arab, dan China yang datang ke Maluku khususnya Ternate untuk membeli rempah-rempah. Kini, Ternate menjadi destinasi wisata rempah-rempah yang diimplementasikan dalam berbagai progam, seperti penataan kawasan cengkeh afo. 2. Kota Seribu Benteng Selain rempah-rempah, banyaknya jumlah benteng menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Benteng-benteng yang ada di Ternate dibangun untuk mengamankan aktivitas perdagangan rempah-rempah yang dilakukan Portugis, Belanda, dan Spanyol pada zaman dulu. Salah satu yang populer adalah Benteng Kalamata, yang diambil darii nama Pangeran Kaicil Kalamata, kakak Sultan Ternate Madarsyah. Benteng yang dikenal pula dengan nama Benteng Kayu Merah itu berada di Kelurahan Kayu Merah, Ternate Selatan. Pada saat dibangun Portugis, benteng itu dinamai Santa Lucia. Benteng Kalamata berdiri menghadap ke selat yang menghubungkan Ternate dan Tidore. Selanjutnya, Benteng Oranje yang dibangun pada 1607 oleh Cornelis Matclief de Jonge. Benteng itu berasal dari bekas benteng tua yang dibangun Portugis. Benteng Oranje sempat menjadi pusat pemerintahan tertinggi Hindia Belanda. Kemampuan benteng tersebut untuk mengusir lawan yang menyerang melalui laut maupun daratan bisa dilihat dari keberadaan sejumlah meriam yang masih tersisa di sana. Saksikan Video Pilihan Berikut IniGempa berkekuatan magnitudo 5,8 mengguncang Ternate Maluku Utara hari Kamis 16/4. Gempa tidak berpotensi tsunami, belum ada laporan kerusakan akibat gempa tersebut.
DiTernate, Maluku Utara, ada tradisi malam ela-ela atau tradisi bakar obor. Baca Juga : Kolak Ayam, Menu Tradisi Ramadhan Sunan Dalem yang Melegenda Malam ela-ela ditandai dengan pembakaran obor utama oleh Sultan Ternate ke-49 Hidayatullah Sjah, Imam besar Masjid Sigi Lamo atau masjid besar Kesultanan H. Hidayatulssalam Sechan dan Wali Kota Kejayaan Ternate sebagai salah satu bandar niaga terkemuka di wilayah Timur Nusantara telah membawa perubahan besar bagi sebagian rakyatnya. Di bawah pimpinan Sida Arif Malamo 1322-1331, Ternate menjadi pintu masuk utama perniagaan Maluku, mengungguli saudaranya, Tidore. Para pedagang dari Cina, Arab, dan Gujarat pun berlomba menarik hati rakyat di daerah penghasil cengkih raja cengkih kualitas terbaik itu untuk menjalin hubungan dagang dengan negeri mereka. Di tengah aktivitas niaga tersebut, ajaran agama Islam yang dibawa pedagang Arab mulai dikenal rakyat Ternate. Keinginan untuk memperdalamnya pun mulai dirasakan sebagian dari mereka, terutama yang sering bersinggungan dengan orang-orang Arab itu. Namun hingga pertengahan abad ke-15, proses Islamisasi di sana belum sepenuhnya dapat diterima rakyat Ternate. Tidak adanya dukungan dari para penguasa membuat Islam sulit berkembang kala itu. Barulah pada masa pemerintahan Marhum 1431-1486, di akhir kekuasaannya, ajaran Islam mulai mendapat tempat dan diterima banyak penguasa Ternate. Perkembangannya saat itu cukup intens. Bahkan, menurut M. Adnan Amal dalam Kepulauan Rempah-rempah Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950, Marhum membawa Islam ke lingkungan terdalam istana. “Putra Marhum, Zainal Abidin, memperoleh didikan Islam sejak kanak-kanak hingga dewasa di bawah bimbingan juru dakwah terkenal, Datu Maulana Husein, yang dapat dianggap sebagai pembawa Islam ke Maluku, khususnya ke Ternate,” ungkap Adnan. Juru Dakwah dari Gresik Menurut Mundzirin Yusuf dalam Sejarah Peradaban Islam di Indonesia, Datu Maulana Husein berasal dari Minangkabau. Dia datang ke Ternate pada 1465 sebagai pedagang dan juru dakwah dari Gresik. Datu Maulana Husein berhasil menjalin hubungan persahabatan dengan Marhum. Berkat itu, dia mampu menyebarkan ajaran Islam di lingkungan istana Ternate. “Dia pandai membaca Al-Qur’an dan suaranya amat merdu. Hampir setiap malam dia membaca kitab suci itu dengan tilawah yang baik dan menarik pribumi Ternate. Akibatnya, banyak pribumi Ternate datang ke rumahnya sekedar mendengar tilawah Al-Qur’an, dan jumlahnya semakin membengkak dari hari ke hari,” kata Adnan. Dengan cara tersebut Maulana Husein mampu menarik minat rakyat Ternate untuk mengenal Islam. Di antara mereka juga banyak yang meminta diajarkan cara membaca Al-Qur’an. Di kediamannya, Maulana Husein lalu membuka pengajian dan sekolah untuk mengajarkan ajaran Islam secara lebih dalam kepada siapapun yang ingin mempelajarinya. Masyarakat pun berbondong-bondong mendatangi Maulana Husein untuk menjadi seorang muslim. Di lingkungan istana, setelah berhasil mengislamkan Marhum, Maulana Husein memberikan pengajaran Islam kepada seluruh keluarga istana dan pejabat istana. Dia mengajarkan tata cara shalat, membaca Al-Qur’an, dan ajaran Islam lainnya. Raja juga memerintahkan semua orang untuk memeluk Islam. Menurut Adnan, Marhum menjadi raja pertama Ternate yang dimakamkan secara Islam. Murid Sunan Giri Zainal Abidin meneruskan takhta Ternate setelah ayahnya, Marhum, wafat pada 1486. Dia ditetapkan sebagai sultan pertama negeri tersebut. Di bawah pemerintahannya, Islam menjadi agama resmi kerajaan Ternate. Zainal Abidin melakukan perubahan-perubahan besar di Ternate, di antaranya gelar Kolano yang digunakan raja berubah menjadi Sultan; Ternate secara resmi menjadi kesultanan; mempertegas kedudukan agama Islam di pemerintahan; dan membentuk Lembaga Jolebe yang bertugas membantu tugas harian Sultan di bidang agama jolebe berjubah putih dan pemerintahan jolebe berjubah hitam. “Perubahan struktur dan kelembagaan Kesultanan Ternate telah membawa pengaruh besar terhadap kerajaan-kerajaan lainnya di Maluku. Kerajaan-kerajaan seperti Tidore dan Bacan, akhirnya juga terpengaruh dan menerapkan struktur dan kelembagaan kerajaannya mengikuti struktur dan kelembagaan baru yang diintroduksi Ternate,” tulis Adnan. Baca juga Akhir Tragis Sultan Ternate di Tangan Portugis Dasar pendidikan agama yang diperoleh Zainal Abidin selain berasal dari gurunya, Datu Maulana Husein, juga berasal dari salah seorang Wali Songo, yakni Sunan Giri. Pada 1495, dengan didampingi Maulana Husein, Zainal pergi ke Gresik untuk memperdalam Islam di madrasah milik Sunan Giri. Menjadi murid seorang Wali Songo memang menjadi cita-cita Zainal Abidin sejak remaja. Berkat cerita yang selalu disampaikan gurunya, dia selalu membayangkan sosok para penyebar ajaran Islam di tanah Jawa tersebut. Zanal Abidin menjadi satu-satunya sultan asal Maluku yang menimba ilmu dari seorang Wali Songo. Di sekolah teman-temannya memberi nama kecil untuk Zainal Abidin, yakni Sultan Bualawa Sultan Cengkih. Dikisahkan De Graaf dan TH. Pigeaud dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa, Zainal Abidin dikenal handal dalam berpedang. Pernah suatu hari, dia bertemu seorang pemuda yang mengamuk dan hendak menyerang Sunan Giri. Dengan sigap, Zainal Abidin mencabut pedangnya dan dengan satu tebasan membelah kepala orang tersebut. De Graaf juga menyebut ada kisah yang menyebut keahilan berpedangnya dapat membelah sebuah batu karang. Selama di Giri, Zainal Abidin menjalin hubungan baik dengan penguasa dan orang-orang berpengaruh lainnya. Ketika hendak pulang ke tanah airnya, dia mengajak sejumlah ahli agama ke Ternate untuk mengajarkan agama dan budaya Islam. Satu yang cukup terkenal di antara mereka adalah Tuhubahahul. Para ulama tersebut diberi tugas sebagai guru agama, mubaligh, dan imam di Kesultanan Ternate. Pada 1500, Zainal Abidin wafat. Dia digantikan oleh Bayanullah, yang di kalangan orang Barat dikenal dengan nama Sultan Boleif atau Abu Lais. Pada masa pemerintahannya, aturan-aturan yang bertujuan memantapkan syairat Islam di segala segi kehidupan masyarakat Ternate dibuat. Dan para pelanggar aturan tersebut akan diganjar hukum berat. Baca juga Islamisasi Minangkabau Beberapa peraturan yang dibuat Bayanullah, di antaranya pembatasan poligami, larangan pergundikan, pemangkasan biaya pernikahan yang berlebihan, dan peraturan berpakaian bagi perempuan. Peraturan lain yang dikeluarkan untuk mempertegas kedudukan Islam adalah kewajiban memeluk agama Islam bagi semua rakyat Ternate. “Setelah Zainal Abidin, Bayanullah dapat dipandang sebagai tokoh paling berjasa dalam penyebaran agama Islam, khususnya di wilayah Kesultanan Ternate. Di samping itu, Bayanullah merupakan sultan yang paling signifikan jasanya dalam implementasi prinsip-prinsip Islam ke dalam struktur dan lembaga-lembaga Kesultanan Ternate. Dia juga sukses mengeluarkan rakyatnya dari politeisme ke moniteisme Islam,” ungkap Adnan.
KBRN Ternate: Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid melalui Kepala Seksi Pengamanan Lingkungan Umum BNPT, Kolonel CZi Yaenurendra mengatakan terorisme yang diawali dari radikalisme adalah ancaman nyata bagi kedamaian di Indonesia. Hal itu diungkapkannya
Tradisi dan Budaya Islam di Ternate – Masuknya islam ke maluku erat sekali dengan kegiatan perdagangan. Para pedagang dan ulama yang singgah ke Maluku demi mencari rempah rempah menyebarkan islam disana. Mulai dari cara berdagang secara islam, perbuatan baik hingga bentuk kerajaan yang kini menjadi kesultanan. Salah satu kerajaan islam yang cukup berkembang di Maluku adalah kerajaan Ternate. Maka tak heran jika Ternate menjadi salah satu kerajaan islam tertua di sejarawan mengungkapkan ternate pertama kali mulai menerima islam sebagai agama dan tradisi pada tahun 1986. Tahun ini disebut sebut sebagai dimulainya islamisasi di Ternate. Bainullah yang menggantikan sultan Zainal Abidin mulai menerapkan hukum dan tradisi islam secara menyeluruh yakni melalui beberapa kebijakan. Diantaranya adalah para kaum lelaki maupun perempuan memakai pakaian islami. Dan kebijakan beliau lainnya adalah memberlakukan perkawinan secara kini sudah menjadi salah satu identitas yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja oleh masyarakat Ternate. Hal ini sangat jelas terlihat dengan berdirinya masjid kesultanan Ternate dan beberapa masjid lainnya. Bukan hanya masjid di kedaton tempat sultan berdiam, juga terdapat peninggalan berupa Al-Quran tertua yang terbuat dari kulit Tradisi dan Budaya Islam di Ternate1. Ritual Kolano Uci Sabea Turunnya Sultan ke MasjidSelanjutnya adalah sebuah ritual wajib yang dilakukan oleh sultan dan masyarakat Ternate yakni ritual kolano uci sabea yang bermakna turunnya sultan ke masjid untuk sholat dan berdoa. Ini adalah pesona religi yang menarik dan berbeda dengan kesultanan lainnya di Indonesia. karena dalam proses ini, sang sultan di tandu dan dikawal masyarakat adat Ternate dari kedaton menuju masjid sultan. Usai melaksanakan sholat teraweh, sultan akan kembali ke kedaton dengan ditandu seperti ketika keberangkatannya ke masjid. Di kedaton, sultan bersama permaisuri akan memanjatkan doa di ruangan khusus tepatnya diatas makam para berdoa, sultan dan permaisuri akan menerima rakyatnya untuk bertemu, bersalaman, bahkan mencium kaki sultan dan permaisuri sebagai tanda kesetiaan. Dalam satu tahun, ritual kolano suci sabea dilaksanakan empat kali. Malam qunut, malam lailatul qadar, serta pada hari raya idul fitri dan idul tradisi dan budaya islam di Ternate ini dilakukan secara turun temurun oleh setiap sultan Ternate hingga Masjid Kesultanan TernateMasjid ini menjadi bukti sejarah bagaimana islam pertama kali masuk di kota Ternate. Masjid sultan Ternate mulai dibangun pada tahun 1606 saat berkuasanya sultan ternate ke 28 mandarsyah. Setelah melewati tiga kepemimpinan, masjid ini baru rampung pada masa pemerintahan sultan hamzah pada tahun sultan Ternate dibangun dengan komposisi bahan yang terbuat dari susunan batu yang direkatkan dengan campuran kulit kayu pohon kalumpa. Dengan model bangunan yang bermodel segi empat dimana atapnya mengadopsi bentuk tumpang limas dan tiap tiap tumpang dipenuhi trali berukir 360 buah sesuai jumlah hari dalam yang juga disebut Sigi Lamo ini juga mempunyai larangan larangan yang tegas yang sampai kini masih dijalankan sesuai dengan amanah sultan dan tradisi. Diantaranya adalah larangan memakai sarung atau wajib menggunakan celana panjang bagi para jamaahnya. Kewajiban memakai penutup kepala atau kopiah, berbagai aturan ini konon berasal dari petuah petuah para leluhur yang juga disebut Doro Bololo, Dalil Tifa, serta Dalil Moro yang hingga kini masih ditaati oleh masyarakat ternate, terutama di lingkungan Asida, Makanan Khas Berbuka PuasaRamadhan di Ternate juga sangat berkesan terutama makanan satu ini yang disajikan ketika buka puasa. Berbekal makanan seperti tepung terigu, gula merah, gula pasir, susu kental manis, mentega, santan secukupnya, garam, fanili perasa dan kenari. Proses memasak asida ini membutuhkan waktu sekitar 3 jam lamanya. Setelah matang, siapkan piring dan oleskan mentega lalu taruh diatas piring dan dibentuk seperti gundukan. Asida pun siap juga Tradisi Bersyukur di Indonesia yang UnikDemikian informasi tentang Tradisi dan Budaya Islam di Ternate yang merupakan pusat penyebaran Islam dimasa perdagangan dulu.
.
  • jlsmvf3d4s.pages.dev/245
  • jlsmvf3d4s.pages.dev/140
  • jlsmvf3d4s.pages.dev/154
  • jlsmvf3d4s.pages.dev/97
  • jlsmvf3d4s.pages.dev/325
  • jlsmvf3d4s.pages.dev/172
  • jlsmvf3d4s.pages.dev/319
  • jlsmvf3d4s.pages.dev/442
  • kehidupan malam di ternate